terkini24.com,- Jerman tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti 3-4 dari Paraguay dalam laga babak 32 besar di Foxborough, Massachusetts, Senin, 29 Juni 2026. Kekalahan ini mengakhiri rekor sempurna Die Mannschaft dalam adu penalti di ajang Piala Dunia sejak 1982, sekaligus memperpanjang tren suram mereka di fase gugur turnamen besar sejak menjuarai Piala Dunia 2014.
Mantan kapten tim nasional Jerman, Thomas Hitzlsperger, menilai kegagalan ini bukan soal teknik atau kualitas individu, melainkan hilangnya jiwa juang yang selama ini menjadi ciri khas sepak bola Jerman. โAda pemain-pemain hebat, tapi mereka kehilangan sesuatu yang lebih penting: semangat bertarung saat tidak menguasai bola,โ ujar Hitzlsperger dalam wawancara dengan BBC.
Ia membandingkan performa Jerman dengan tim-tim seperti Argentina yang selalu menunjukkan ketahanan mental dan agresivitas, bahkan saat tertekan. โKami terlalu terpaku pada umpan-umpan indah, seperti yang diajarkan sejak 2014. Tapi ketika lawan menutup ruang, kami kehilangan rencana cadangan. Kami lupa bahwa sepak bola bukan hanya soal mengoper, tapi juga soal berjuang untuk bola.โ
Hitzlsperger juga mengkritik ketergantungan tim asuhan Julian Nagelsmann pada satu pola permainan yang kaku. Ketika strategi menguasai bola gagal menembus pertahanan Paraguay, Jerman tampak kehilangan arah. โTidak ada rencana B, apalagi rencana C. Kami terlalu percaya diri dengan satu cara bermain, dan itu membuat kami mudah dibaca.โ
Laga yang berlangsung sengit itu sempat berubah dramatis ketika gol sundulan Jonathan Tah di menit ke-117 dianulir oleh VAR, yang menyatakan pelanggaran ringan oleh pemain Jerman. Keputusan itu memicu kemarahan para pemain dan pelatih, namun tidak mengubah arah pertandingan.
Di babak adu penalti, kiper Paraguay Orlando Gill berhasil menyelamatkan tendangan keempat Nick Woltemade, sebelum Braian Ojeda menuntaskan kemenangan dengan tendangan penentu. Paraguay, yang lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik dari fase grup, melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi pemenang laga Prancis vs Swedia.
Sementara itu, Jerman kembali menghadapi krisis identitas. Sejak 2014, mereka belum pernah menang di fase gugur turnamen besarโbaik Piala Dunia maupun Euro. Hasil ini memperkuat tekanan pada manajemen DFB dan pelatih Julian Nagelsmann, yang kini dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah filosofi sepak bola modern yang mengutamakan penguasaan bola masih relevan tanpa daya juang?
Dengan kekalahan ini, Jerman kembali menjadi sorotan bukan karena kekurangan bakat, tapi karena kehilangan jiwa yang dulu membuat mereka ditakuti di seluruh dunia.
















