Sumbawanews.com,- Dua gol gemilang Kylian Mbappe membawa Prancis menang telak 3-0 atas Swedia di babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Meadowlands Stadium, New Jersey, Rabu, 1 Juli 2026. Namun, keberhasilan itu bukan sekadar prestasi individu—melainkan simfoni kekompakan tim yang mengangkat Les Bleus sebagai kandidat juara paling berbahaya di turnamen ini.
Gol pertama Mbappe, yang menjadi gol ke-9-nya di fase gugur Piala Dunia, mengantarnya melampaui rekor legenda Brasil Leonidas dan Ronaldo. Gol kedua membuat total koleksi golnya di ajang empat tahunan ini mencapai 18 gol dari hanya 18 penampilan—hanya terpaut satu gol dari rekor sepanjang masa Lionel Messi. Di puncak pencapaian ini, Mbappe juga memimpin daftar pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026 bersama Messi dengan enam gol.
Namun, yang lebih menggetarkan bukan statistik, melainkan gestur setelah gol pertama. Tanpa selebrasi khas, Mbappe berlari menuju pinggir lapangan dan memeluk pelatih Didier Deschamps—sebuah penghormatan mendalam untuk sang pelatih yang baru kembali ke tim setelah ditinggal ibunya meninggal dunia. “Gestur Kylian benar-benar menyentuh hati saya. Dia adalah kapten kami,” kata Deschamps, mengutip ESPN.
Mbappe sendiri menolak menjadi pusat perhatian. “Ini bukan hanya soal saya. Seluruh tim tahu apa yang harus dilakukan. Kompetisi yang sesungguhnya baru dimulai hari ini,” ujarnya tenang.
Peran Mbappe pun berubah. Jika dulu ia menjadi mesin serang yang berdiri sendiri, kini ia menjadi ujung tombak dalam sistem yang sangat terstruktur. Gol pertamanya lahir dari kecepatan dan kejeniusan individu—mengecoh Viktor Gyökeres dengan gerakan crossover sebelum melepaskan tembakan keras ke tiang jauh. Tapi gol ketiga Prancis justru menjadi gambaran sempurna dari permainan kolektif: kombinasi halus antara Bradley Barcola dan Michael Olise, sebelum Mbappe menyelesaikannya dengan sentuhan dingin di dalam kotak penalti.
Olise, gelandang serang Bayern Muenchen, mencatatkan dua assist dalam laga ini, menjadikannya pemain dengan assist terbanyak di Piala Dunia 2026—lima assist sejauh ini. “Saat bola berada di kakinya, sungguh luar biasa,” puji Deschamps. “Dia melengkapi para penyerang lainnya dengan sangat baik.”
Barcola, yang juga mencetak satu gol, menyebut Mbappe sebagai “jenius”. “Ia bertahan, menciptakan peluang, memberi umpan, dan mencetak gol. Di lapangan, ia melakukan segalanya.”
Dengan serangan mematikan yang melibatkan Mbappe, Olise, Barcola, dan Ousmane Dembele, Prancis melepaskan 25 tembakan—lima kali lebih banyak dari Swedia. Empat pertandingan, empat kemenangan, dan selalu mencetak minimal tiga gol. Tidak ada tim lain yang sekuat ini di turnamen ini.
“Skuad ini benar-benar bersatu,” tegas Deschamps. “Mentalitas sebuah tim memang tidak otomatis memenangkan pertandingan, tetapi saya tahu mentalitas yang salah bisa membuat Anda kalah.”
Kini, Prancis menanti lawan berikutnya: Paraguay, yang mengejutkan dunia dengan mengalahkan Jerman lewat drama adu penalti. Mbappe, yang masih fokus pada ruang ganti dan pendingin ruangan, tak peduli siapa lawannya. “Pekerjaan belum selesai,” katanya.
Di tengah kejatuhan raksasa Eropa, Prancis justru bangkit bukan karena bintangnya, tapi karena kebersamaannya. Dan Mbappe? Ia bukan lagi sekadar penyerang tercepat di dunia. Ia adalah kapten, pemimpin, dan simbol dari sebuah tim yang bermain bukan untuk dirinya sendiri—melainkan untuk satu tujuan yang lebih besar.
















