terkini24.com,- Manchester United akan menjamu AS Roma di laga Liga Champions, Rabu (4/11) dini hari WIB, di Old Trafford, dalam kondisi krisis terparah dalam lebih dari tiga dekade. Setan Merah belum menang dalam sembilan pertandingan berturut-turut di semua kompetisi—tiga imbang dan enam kalah—rekor terburuk sejak musim 1988/1989. Kekalahan 0-2 dari Chelsea akhir pekan lalu, yang diperparah dengan kartu merah Lisandro Martinez, menjadi puncak kegagalan tim yang kehilangan arah. Di Premier League, MU hanya mengumpulkan tujuh poin dari sembilan laga, hampir terperosok ke zona degradasi, sementara di Liga Champions, kekalahan 0-2 dari Atletico Madrid dan kekalahan telak 1-4 dari Como menunjukkan kerapuhan bertahan yang memprihatinkan.

Michael Carrick, yang masih memimpin tim sebagai pelatih, menghadapi tekanan luar biasa. Skema pressing tinggi yang ia terapkan justru menjadi bumerang, terbukti saat MU hanya mampu menciptakan empat tembakan tepat sasaran meski menguasai bola 54 persen melawan Como. Bruno Fernandes terbuka mengkritik sistem man-to-man yang dianggap setengah hati, bahkan sempat duduk di bangku cadangan sebelum dipaksa kembali ke lini depan. Kondisi tim semakin runyam akibat badai cedera: Kobbie Mainoo, Luke Shaw, dan Marcus Rashford absen, sementara Benjamin Sesko belum pulih. Kabar beredar bahwa manajemen klub sudah menyiapkan pengganti Carrick, termasuk nama Eddie Howe dan Julian Nagelsmann.

Sementara itu, AS Roma datang dengan momentum luar biasa. Dalam 10 laga terakhir di Serie A, I Lupi belum pernah kalah—tujuh menang dan tiga imbang—mengantarkan mereka ke peringkat tiga klasemen, hanya empat poin dari pemimpin Lazio. Lini serang Roma menjadi yang paling menakutkan di Italia, dengan 28 gol dari 12 pemain berbeda. Donyell Malen menjadi ujung tombak dengan 11 gol, meski Paulo Dybala absen akibat cedera. Gian Piero Gasperini tetap konsisten dengan sistem tiga bek dan pressing agresif yang pernah nyaris mengalahkan Real Madrid di Olimpico. Taktik ini justru sempurna untuk memanfaatkan celah di pertahanan MU, seperti yang sudah dibuktikan Como dengan memecah half-space Setan Merah.

Rekor historis masih memihak MU: lima kemenangan dari delapan pertemuan melawan Roma, termasuk kemenangan telak 7-1 pada 2007 yang dicetak Carrick sendiri. Namun, masa lalu tak lagi jadi tameng. Old Trafford yang dulu menakutkan kini kehilangan tuahnya, sementara Roma datang dengan lapar kemenangan dan kepercayaan diri yang membuncah. Bagi Carrick, satu-satunya jalan selamat adalah mengubah pendekatan taktisnya—menghentikan pressing tanpa jangkar di tengah, dan membangun kembali struktur pertahanan yang koheren. Di panggung Liga Champions, kenangan indah tak cukup menyelamatkan kejayaan yang sudah layu.

Designed with WordPress