Sumbawanews.com,- Laga Brasil vs Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar duel antara dua tim tanpa kekalahan—ini adalah pertemuan strategis antara dua pelatih dengan filosofi berbeda: Carlo Ancelotti dan Hajime Moriyasu. Namun, sang pelatih Brasil justru menolak segala bentuk perang urat saraf yang kerap menghiasi pertandingan besar.
Menjelang laga yang berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2026, pukul 00.00 WIB di Stadion Monterrey, Meksiko, Ancelotti memilih fokus pada persiapan teknis, bukan pernyataan provokatif dari lawan. Ia menolak taktik “mind games” yang kerap digunakan di Eropa, menegaskan bahwa timnya hanya menghormati kualitas lawan, bukan kata-kata yang menggoda emosi.
“Kami tidak melakukan apa yang di Inggris disebut _mind games_. Kami tidak akan melakukannya,” tegas Ancelotti, yang sejak Mei 2025 resmi menangani Timnas Brasil. Ia menolak merespons komentar dari penyerang muda Jepang Kento Shiogai yang menyebut Brasil tak lagi menakutkan seperti dulu. “Kami fokus pada pertandingan, pada kualitas lawan, dan mempersiapkan diri dengan baik agar tidak mengalami masalah.”
Brasil, juara Grup C, tampil impresif dengan tiga kemenangan dalam empat laga—imbang 1-1 melawan Maroko, lalu menang 3-0 atas Haiti dan Skotlandia. Kembalinya Neymar menjadi angin segar. Penyerang Santos itu kembali ke lapangan setelah absen lebih dari tiga tahun akibat cedera betis kanan, bermain 15 menit saat melawan Skotlandia. Ancelotti memastikan kondisi Neymar terus membaik dan siap tampil lebih lama. “Dia berkembang sangat baik. Fisiknya sudah bagus. Tapi semuanya tergantung jalannya pertandingan.”
Sementara itu, Jepang—runner-up Grup F—tetap tak terkalahkan dalam 10 pertandingan terakhir sejak kalah 0-2 dari Amerika Serikat pada September 2025. Mereka bahkan pernah mengalahkan Brasil dalam laga persahabatan di Tokyo, serta menaklukkan Inggris di Wembley. Namun, kekalahan terbesar mereka datang dari absennya sang playmaker andalan, Takefusa Kubo, yang masih dalam pemulihan cedera setelah ditarik keluar pada laga pembuka melawan Belanda.
“Dia masih menjalani latihan individual. Belum siap bermain melawan Brasil,” kata Moriyasu, yang mengaku tetap optimistis meski timnya dianggap sebagai underdog. “Brasil di puncak, Jepang belum sampai sana. Tapi di sepak bola, kesempatan selalu ada. Kami bisa mengubah sejarah.”
Moriyasu juga mengungkap perubahan strategi jika laga berakhir imbang dan harus ditentukan lewat adu penalti. Berbeda dengan Piala Dunia 2022, ketika pemain menawarkan diri secara sukarela, kali ini ia yang akan menentukan urutan penendang. “Saya yang memutuskan. Tidak ada lagi diskusi.”
Pemenang laga ini akan melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi pemenang Pantai Gading vs Norwegia pada 5 Juli mendatang di New York New Jersey Stadium. Dengan Neymar yang kembali, Brasil membawa harapan besar. Tapi Jepang, dengan disiplin, kecepatan, dan semangat pantang menyerah, siap membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim yang bisa dianggap remeh.
Di tengah gemuruh prediksi dan spekulasi, satu hal jelas: ini bukan pertandingan antara kekuatan dan kelemahan, tapi antara dua filosofi sepak bola—yang percaya pada bintang, dan yang percaya pada tim.

















