Sumbawanews.com,- Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, menyampaikan kelakar kontroversial yang langsung memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola. Ia mengaku berdoa agar para pemainnya yang dipanggil ke tim nasional segera tersingkir di Piala Dunia 2026 — bukan karena kebencian, tapi demi kepentingan taktis klub.
Dalam wawancara eksklusif bersama podcast *Beast Mode On*, Mourinho, yang baru kembali menangani Los Blancos setelah 13 tahun absen, mengungkapkan niatnya untuk segera memulai pemusatan latihan pramusim. “Anda ingin mendengar kebenaran? Saya ingin para pemain Real Madrid kalah dan segera pulang. Saya butuh mereka kembali secepat mungkin untuk memulai persiapan,” ujarnya, seperti dilansir Sportbible.
Real Madrid, yang gagal meraih trofi apa pun dalam dua musim terakhir, tengah membangun kembali fondasi tim setelah musim yang penuh gejolak. Mourinho, yang kembali ke Santiago Bernabéu sebagai pelatih kepala menggantikan Alvaro Arbeloa, menilai waktu adalah faktor krusial. Latihan perdana di kompleks Valdebebas dijadwalkan pada 14 Juli 2026 — enam hari sebelum laga final Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Kebutuhan akan kehadiran pemain inti seperti Kylian Mbappé, Jude Bellingham, dan Vinícius Júnior — yang kemungkinan besar akan membela tim nasionalnya masing-masing — membuat Mourinho memprioritaskan kesiapan tim daripada keberhasilan di kancah internasional. Meski terdengar egois, pernyataannya justru mencerminkan realitas manajemen modern: klub dan negara sering kali beradu kepentingan, terutama di musim panas.
Pernyataan Mourinho pun langsung menjadi viral, terutama di tengah geliat Piala Dunia 2026 yang tengah memanas. Mbappé, yang baru saja mencetak brace saat Prancis mengalahkan Swedia, menjadi salah satu nama yang paling diincar oleh pelatih asal Portugal. Jika Les Bleus melaju jauh, maka latihan pramusim Real Madrid akan terganggu — sebuah skenario yang ingin dihindari Mourinho.
Tak ada indikasi bahwa Mourinho ingin merusak keberhasilan tim nasional. Ia justru menghormati pencapaian para pemainnya di level internasional. Namun, sebagai manajer klub, ia harus berpikir jangka pendek: membangun kekompakan tim, menanamkan filosofi permainan, dan memulihkan kepercayaan setelah masa-masa suram.
Dengan jadwal yang ketat dan ambisi besar, Mourinho memilih jalan pragmatis — bahkan jika itu berarti berdoa agar bintang-bintangnya gagal di turnamen terbesar di dunia. Baginya, trofi Liga Spanyol 2026-2027 lebih penting daripada gelar Piala Dunia. Dan di dunia sepak bola, keputusan seperti ini bukanlah hal yang aneh — hanya saja, jarang ada yang mengatakannya sejujur ini.
















