terkini24.com,- Pelatih Real Madrid, José Mourinho, kembali ke Santiago Bernabéu dengan misi jelas: memulihkan kebahagiaan para pemain setelah dua musim penuh kegagalan meraih gelar. Kehilangan Liga Spanyol dan Liga Champions berturut-turut, ditambah ketidakstabilan di ruang ganti, membuat klub ini terpuruk sejak masa kejayaan Carlo Ancelotti berakhir. Kedatangan Mourinho, yang menggantikan Alvaro Arbeloa, dianggap sebagai titik balik—bukan hanya untuk memperbaiki performa, tapi juga membangun kembali semangat tim.
Mourinho menekankan bahwa keberhasilan tidak bisa dibangun hanya dari taktik atau kekuatan individu, tapi dari kesejahteraan mental para pemain. “Mengembalikan rasa kebahagiaan bukan misi sesaat, tapi komitmen sepanjang musim,” ujarnya. Ia menilai frustrasi yang muncul saat pemain tidak bermain lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi psikologis mereka sendiri daripada keputusan pelatih. Di tengah kekacauan sebelum kedatangannya—termasuk insiden perkelahian antara Federico Valverde dan Aurélien Tchouameni—Mourinho perlahan berhasil menenangkan suasana.
Tiga laga awal La Liga berakhir dengan kemenangan mutlak: 2-1 atas Espanyol, 4-1 atas Real Sociedad, dan 4-0 atas Málaga. Meski kemenangan pertama tergolong sempit, dua kemenangan berikutnya menunjukkan keganasan serangan yang dipimpin Kylian Mbappé dan kawan-kawan. Namun, Mourinho tetap waspada. Ia mengingatkan bahwa masa sulit pasti akan datang—cedera, kritik, dan kekalahan adalah bagian tak terhindarkan dari sepak bola. “Saat itulah kita harus mengandalkan kekuatan tim yang sedang kita bangun,” katanya. “Kita harus tetap seimbang, jangan biarkan momen negatif merusak seluruh perjalanan musim ini.”
Dengan pengalaman 63 tahun di atas bangku pelatih, Mourinho tidak hanya membawa strategi, tapi juga kepemimpinan yang menenangkan—mengubah tim yang kacau menjadi tim yang percaya diri, satu langkah sekaligus satu hati.

















