terkini24.com,- FIFA menghadapi kritik tajam selama Piala Dunia 2026 setelah sejumlah keputusan kontroversial diduga dipengaruhi oleh tekanan politik, termasuk penangguhan kartu merah Folarin Balogun, penolakan masuk staf Iran dan wasit Somalia, serta pemberian penghargaan perdamaian kepada Presiden AS Donald Trump oleh Presiden FIFA Gianni Infantino.

Turnamen yang diselenggarakan secara kolaboratif oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini menjadi sorotan bukan hanya karena pertandingan di lapangan, tetapi juga karena serangkaian kebijakan yang mempertanyakan netralitas FIFA. Keputusan menangguhkan hukuman kartu merah Balogun, yang membuat penyerang timnas AS tetap bermain di babak 16 besar meski mendapat kartu merah langsung, diumumkan tanpa penjelasan resmi. Donald Trump sendiri mengakui telah berkomunikasi langsung dengan Infantino terkait kasus tersebut, memperkuat dugaan intervensi politik.

Kontroversi semakin membesar ketika delegasi Iran mengalami hambatan masuk ke AS, sementara wasit asal Somalia, Omar Artan, ditolak imigrasi AS. Respons Infantino yang hanya mengatakan โ€œTenang sajaโ€ dinilai tidak memadai oleh banyak pihak. Di sisi lain, pemberian FIFA Peace Award kepada Trump saat pengundian turnemen pada Desember 2025 juga menuai kecaman luas, karena dianggap melanggar prinsip netralitas politik yang menjadi fondasi statuta FIFA. Padahal, organisasi ini sebelumnya pernah memberi sanksi kepada federasi seperti Pakistan karena intervensi pemerintah.

Dengan berbagai insiden ini, publik mulai mempertanyakan konsistensi FIFA dalam menjalankan aturan anti-politik, terutama ketika keputusan besar justru muncul di tengah hubungan dekat antara pemimpin tertinggi FIFA dan tokoh politik negara tuan rumah.

Designed with WordPress

Discover more from Terkini24.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading