terkini24.com,- Timnas Prancis berhasil melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 dengan mencatatkan 10 gol dalam tiga pertandingan fase grup dan menang 3-0 atas Swedia di babak gugur, menunjukkan perubahan besar filosofi permainan di bawah Didier Deschamps. Dengan kekuatan lini depan yang memadai oleh Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, dan Desire Doue, Les Bleus kini lebih agresif dan tidak lagi mengandalkan pertahanan ketat sebagai tulang punggung. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kesuksesan Prancis di turnamen besar justru sering terjadi saat penyerang utama tak mencetak gol โ seperti pada Piala Dunia 1998 dengan Stรฉphane Guivarcโh dan 2018 dengan Olivier Giroud โ yang justru membuktikan bahwa keberhasilan tim tak selalu bergantung pada pencetak gol utama.
Meski kini memiliki empat penyerang berkaliber dunia yang bisa menggempur dari berbagai sisi, Deschamps tetap mempertahankan pola klasik yang pernah membawa Prancis juara: serangan yang terstruktur, efisien, dan didukung soliditas lini tengah. Di laga melawan Swedia, Mbappe menjadi ujung tombak, tetapi dua gol lainnya datang dari Olise dan Dembele, menunjukkan distribusi ancaman yang merata. Ini bukan sekadar serangan berlimpah, tapi sebuah transformasi taktis yang mengubah Prancis dari tim yang bertahan untuk menang, menjadi tim yang menyerang untuk menghancurkan lawan.
Fenomena ini memicu diskusi luas: apakah keberhasilan Prancis di Piala Dunia 2026 akan berulang seperti di 1998 atau 2018, di mana gelar juara diraih meski striker utama ‘bisu’? Atau justru, generasi baru ini akan menulis sejarah baru dengan menggabungkan kedua filosofi โ serangan mematikan dan ketahanan mental โ yang belum pernah dicapai tim Prancis sebelumnya? Dengan kekuatan skuad yang belum pernah sepadat ini sejak 2018, Prancis kini bukan sekadar favorit, tapi kandidat terkuat yang siap mengubah aturan permainan di panggung dunia.
















