terkini24.com,- Jakarta – Timnas Prancis tampil sebagai mesin gol yang tak terbendung di Piala Dunia 2026, menyapu bersih fase grup dan melangkah ke babak 16 besar dengan catatan impresif: empat pertandingan, empat kemenangan, 13 gol dicetak, hanya dua kali kebobolan. Di laga terakhir fase grup, Les Bleus menghancurkan Swedia 3-0 di Stadion New York-New Jersey, Rabu (1/7/2026) dini hari WIB, lewat brace Kylian Mbappé dan gol Bradley Barcola.
Kemenangan atas Swedia bukanlah kejutan. Sebelumnya, Prancis sudah menundukkan Senegal, Irak, dan Norwegia dengan dominasi yang konsisten. Di grup I, tim asuhan Didier Deschamps menjadi satu-satunya tim yang meraih kemenangan absolut, mengumpulkan sembilan poin sempurna, sekaligus mencatatkan rekor terbaik dalam hal produktivitas serangan.
Performa tim Ayam Jantan ini langsung mencuri perhatian para pakar sepak bola internasional. Mantan pemain tim nasional Skotlandia, Jen Beattie, tak segan menyebut Prancis sebagai tim yang “menakutkan” di ajang ini. “Mereka membuat segalanya terlihat mudah. Kombinasi serangan mereka mematikan, pergantian pemain sangat presisi, dan setiap individu dalam skuad bermain seolah punya misi yang sama. Ini bukan hanya kekuatan, tapi kecanggihan taktis yang jarang ditemukan,” ujar Beattie dalam analisisnya yang dikutip BBC.
Dengan keunggulan itu, Prancis kini menanti lawan di babak 16 besar: Paraguay, yang lolos sebagai runner-up grup D. Laga sengit ini akan berlangsung di Philadelphia Stadium pada 6 Juli 2026 pukul 06.00 WIB. Jika performa saat ini terus berlanjut, Prancis bukan hanya menjadi favorit, tapi kandidat terkuat untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026.
Mbappé, yang kini menjadi pencetak gol terbanyak timnas Prancis di Piala Dunia, menjadi ujung tombak sekaligus simbol keganasan Les Bleus. Bersama Barcola, Griezmann, dan gelandang teknis seperti Aurelien Tchouameni, Prancis menunjukkan keseimbangan sempurna antara kecepatan, kontrol, dan ketajaman finising.
Dengan satu-satunya kelemahan—dua gol kebobolan dalam empat pertandingan—Prancis justru semakin menakutkan. Mereka tidak hanya menyerang, tapi juga menutup ruang lawan dengan disiplin defensif yang jarang terlihat pada tim berbasis kecepatan seperti mereka.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Prancis bisa melaju, tapi seberapa jauh mereka bisa membawa bola ke final. Di tengah deretan juara bertahan yang tersingkir lebih awal, Prancis tampak seperti satu-satunya tim yang benar-benar siap mempertahankan gelar—meski mereka bukan juara bertahan, mereka jauh lebih berbahaya daripada siapa pun yang pernah mengklaimnya.
















