terkini24.com,- Pelatih PSS Sleman, Pieter Huistra, menegaskan bahwa rivalitas dalam Derbi Mataram melawan PSIM Yogyakarta harus tetap terbatas di dalam lapangan. Pertandingan yang dijadwalkan pada 10 Desember 2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul, menjadi momen penting setelah PSS kembali ke BRI Super League, dan Huistra mendukung komitmen damai yang dicapai perwakilan suporter kedua klub dalam pertemuan di Polda DIY pada 16 September 2026.
Huistra, yang pernah mengalami derbi sengit saat membela Glasgow Rangers, memahami betapa kuatnya emosi di balik pertandingan antar klub se-kota. Namun, ia menekankan bahwa sepak bola sejatinya adalah tentang dukungan yang sportif, bukan permusuhan. โIni tentang sepak bola, bukan tentang membuat masalah. Rivalitas itu wajar, tapi dukungan harus tetap terhormat,โ ujarnya. Ia menilai perbedaan identitas dan kebanggaan antara suporter PSS dan PSIM justru menjadi kekuatan yang membuat derbi semakin menarik, selama tidak berubah menjadi kekerasan atau provokasi.
Komitmen kedua kelompok suporter untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama laga menjadi dasar penting bagi tim dan manajemen. Dengan pertandingan sebagai panggung utama, Huistra berharap para pendukung bisa menyalurkan semangat tanpa melanggar batas kemanusiaan. Derbi Mataram nanti bukan sekadar pertandingan, tapi ujian kedewasaan fans dalam menjaga kecintaan pada klub tanpa mengorbankan perdamaian.
Laga akan berlangsung di Stadion Sultan Agung, dengan PSIM sebagai tuan rumah, dalam rangkaian putaran pertama BRI Super League 2026/2027.

















