terkini24.com,- Deretan pelatih yang mengundurkan diri pasca-Piala Dunia 2026 bertambah satu nama. Sebastian Beccacece resmi meletakkan jabatannya sebagai pelatih timnas Ekuador setelah timnya gagal melangkah ke babak 16 besar, meski berhasil menembus fase gugur untuk kedua kalinya dalam sejarah.

Dalam laga babak 32 besar di Mexico City Stadium pada Rabu dini hari, 1 Juli 2026, Ekuador tumbang 0-2 dari tuan rumah Meksiko, dengan gol Julian Quinones dan Raul Jimenez menjadi penentu kekalahan. Meski mencatatkan pencapaian sejarahโ€”menyamai hasil terbaik di Piala Dunia 2006โ€”Beccacece mengakui kegagalan memenuhi target utama: melaju ke putaran berikutnya.

โ€œKontrak saya berakhir bersama Piala Dunia. Maka, giliran saya untuk mengucapkan selamat tinggal,โ€ ujar Beccacece dalam pernyataan resmi usai laga, tanpa menyebut tekanan atau alasan lain selain tanggung jawab pribadi atas hasil yang tidak memenuhi harapan.

Kepindahannya menyusul serangkaian pengunduran diri pelatih lain pasca-turnamen. Ronald Koeman meninggalkan timnas Belanda setelah dikalahkan Maroko lewat adu penalti di fase gugur, sementara Hong Myung-bo (Korea Selatan), Miroslav Koubek (Republik Ceko), dan Steve Clarke (Skotlandia) juga mengakhiri masa jabatan mereka setelah gagal lolos dari fase grup.

Tak hanya itu, kejutan terbesar datang dari Tunisia, yang memecat Sabri Lamouchi hanya setelah satu pertandinganโ€”kalah telak 0-4 dari Swedia di laga pembuka Grup F. Sementara itu, Yasser Al Misehal, presiden federasi sepak bola Arab Saudi, mengambil inisiatif mundur meski tidak menangani tim langsung, dengan alasan bahwa kegagalan timnya di turnamen ini adalah tanggung jawab kepemimpinannya.

Dengan mundurnya Beccacece, Ekuador kini memasuki masa transisi penting menjelang kualifikasi Piala Dunia 2030. Pelatih asal Argentina itu meninggalkan jejak sebagai arsitek yang membawa tim Andes kembali ke panggung dunia setelah 20 tahun absen dari babak 16 besarโ€”namun, ambisi untuk melangkah lebih jauh belum terwujud.

Pengunduran dirinya menjadi simbol tekanan tinggi yang menyelimuti pelatih di era Piala Dunia modern: hanya keberhasilan di babak gugur yang dianggap sukses, dan kegagalan di ambang pintu akhir menjadi alasan cukup untuk berakhirnya sebuah era.

Designed with WordPress

Discover more from Terkini24.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading