terkini24.com,- Miami – Di tengah hingar-bingar kandidat juara Piala Dunia 2026, sebuah kejutan kecil namun menggetarkan datang dari pulau-pulau di Atlantik. Presiden Cape Verde, José Maria Neves, dengan tenang menyatakan keyakinannya: timnya mampu mengalahkan Argentina 1-0 di babak 32 besar.
Bukan omong kosong. Di grup H yang dikenal keras, Cape Verde—tim debutan tanpa sejarah besar di ajang dunia—berhasil menahan imbang Spanyol 0-0, lalu lolos sebagai runner-up, mengungguli Uruguay dan Arab Saudi yang jauh lebih berpengalaman. Tiga pertandingan, tiga kali imbang. Tanpa kalah. Tanpa mencetak gol, tapi tetap bertahan. Itu bukan keberuntungan. Itu disiplin. Itu strategi. Itu semangat.
Kini, di hadapan mereka berdiri Argentina, sang juara grup I dengan tujuh gol dicetak, dan Lionel Messi yang siap menutup karier internasionalnya dengan mahkota. Tapi Neves tak gentar. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC, ia menyampaikan pesan yang menggema: “Kami pergi ke Piala Dunia ini untuk menulis takdir kami sendiri. Menghadapi tim juara dunia? Tidak ada yang mustahil.”
Ia menegaskan, kekuatan Cape Verde bukan pada bintang-bintang, tapi pada solidaritas. “Ketika ekspektasi rendah, dan semangat tinggi, hasilnya bisa menggemparkan. Kami percaya bisa menang 1-0. Bukan karena kami lebih kuat, tapi karena kami lebih mau menang.”
Dengan skuad yang mayoritas bermain di liga Eropa level kedua, dan kapten Vozinha yang menjadi tulang punggung pertahanan, Cape Verde bukan sekadar tim underdog. Mereka adalah simbol ketahanan. Mereka membuktikan bahwa di dunia sepak bola modern, kekuatan tak selalu diukur dari anggaran atau reputasi—tapi dari tekad.
Laga antara Argentina dan Cape Verde akan digelar akhir pekan ini di Miami. Dan meski tak ada yang mengharapkan kemenangan bagi tim Afrika itu, Neves sudah menyiapkan pesan terakhirnya: “Kami datang bukan untuk sekadar hadir. Kami datang untuk membuat dunia berhenti sejenak—dan bertanya, bagaimana mungkin ini terjadi?”
Di dunia yang sering meremehkan yang kecil, Cape Verde sedang membuktikan: kadang, yang paling tak terduga, justru yang paling berani.

















