Sumbawanews.com,- Drama kemenangan 2-1 Timnas Brasil atas Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion NRG, Houston, tak hanya dikenang lewat gol penentu Gabriel Martinelli di menit ke-96. Lebih dari itu, aksi Matheus Cunha sesaat setelah peluit panjang berbunyi menjadi momen paling menggemparkan—sebuah balasan simbolis terhadap hinaan yang dilontarkan pemain Jepang, Kento Shiogai, sebelum laga dimulai.

Shiogai, yang hanya bermain selama enam menit sebagai pemain pengganti, sebelum pertandingan sempat menyebut era kejayaan Brasil telah berlalu. Dalam wawancara sebelum laga, ia menyatakan bahwa hanya Prancis dan Argentina yang pantas disebut sebagai kekuatan sepak bola dunia saat ini—sebuah pernyataan yang langsung memicu amarah di kubu Tim Samba.

Begitu wasit meniup peluit akhir, Cunha langsung mendekati Shiogai. Tanpa kata-kata panjang, ia mengangkat lima jari tangan ke udara, lalu berteriak keras: “Lima Piala Dunia… Anda masih kecil!” Aksi itu bukan sekadar emosi, tapi simbol historis—pengingat bahwa Brasil adalah satu-satunya negara yang pernah memenangkan lima gelar Piala Dunia, sebuah prestasi yang belum pernah terulang hingga kini.

Reaksi dari tim Brasil pun tak kalah tegas. Kapten Marquinhos, yang menjadi sosok penenang di belakang, mengakui bahwa pernyataan Shiogai memang terdengar arogan. Namun, ia menekankan bahwa timnya memilih menjawab dengan cara yang lebih bermartabat: lewat permainan, bukan omong kosong. “Kami tidak butuh bicara. Kami punya bola, dan kami tunjukkan di lapangan,” ujar Marquinhos usai laga.

Kemenangan Brasil sendiri datang setelah tertinggal lebih dulu lewat gol Kaishu Sano pada menit ke-30. Keseimbangan kembali dipulihkan oleh Casemiro pada menit ke-56, sebelum Martinelli menutup drama dengan gol penentu di penghujung laga—mengunci tiket Selecao ke babak 16 besar sekaligus mempermalukan upaya Jepang untuk meremehkan sejarah.

Di luar lapangan, aksi Cunha langsung menjadi viral di media sosial. Suporter Brasil membanjiri akun Shiogai dengan meme dan kutipan “Lima Piala Dunia”, sementara warganet Jepang terpaksa diam—tak ada yang bisa dikatakan setelah timnya kalah di lapangan dan dihancurkan oleh simbol kejayaan yang tak terbantahkan.

Dengan kemenangan ini, Brasil melanjutkan tradisi mereka sebagai satu-satunya tim yang tak pernah absen dari putaran final Piala Dunia sejak 1930. Dan di Houston, Matheus Cunha bukan hanya mencetak poin psikologis—ia mengingatkan dunia: sejarah tak bisa dihapus hanya dengan kata-kata.

Designed with WordPress

Discover more from Terkini24.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading