terkini24.com,- Boston – Mimpi Jerman untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 pupus dalam drama adu penalti yang memilukan. Die Mannschaft, yang selama empat dekade tak pernah kalah dalam adu penalti di turnamen ini, akhirnya tumbang 3-4 dari Paraguay di babak 32 besar, Selasa (30/6) pagi WIB, di Gillette Stadium, Boston.
Laga yang berjalan sengit berakhir 1-1 setelah 120 menit. Paraguay yang lebih dulu unggul lewat gol Julio Enciso pada menit ke-43, sempat membuat Jerman terpukul. Tapi Kai Havertz bangkit di menit ke-52, menyamakan kedudukan dengan tembakan akurat dari luar kotak penalti. Kedua tim saling menahan, tak ada yang mampu memecah kebuntuan meski peluang tercipta berulang kali.
Di babak adu penalti, sejarah berbalik menjadi malapetaka. Jerman, yang sebelumnya menang dalam empat kesempatan adu penalti di Piala Dunia—1982 vs Prancis, 1986 vs Meksiko, 1990 vs Inggris, dan 2006 vs Argentina—tiba-tiba kehilangan keseimbangan mental. Tiga penendangnya: Kai Havertz, Nick Woltemade, dan Jonathan Tah, gagal menghantarkan bola ke gawang. Sementara Paraguay hanya kehilangan dua tendangan, dari Arnaldo Sanabria dan Fabian Balbuena, yang masing-masing ditangkap kiper dan melenceng.
Kekalahan ini bukan sekadar tersingkir dari turnamen. Ini adalah akhir dari era kejayaan Jerman di adu penalti. Sejak 1982, mereka hanya sekali kebobolan dalam empat kesempatan—ketika Uli Stielke ditahan kiper Jean-Luc Ettori di semifinal 1982. Kini, tiga kegagalan beruntun menghancurkan rekor yang selama 44 tahun menjadi simbol ketenangan dan kehandalan mental tim Jerman.
Sementara itu, Paraguay melaju ke babak 16 besar untuk pertama kalinya sejak 2010. Pasukan Gustavo Alfaro akan menanti pemenang laga Prancis vs Swedia, sambil merayakan kemenangan paling berarti dalam sejarah Piala Dunia mereka dalam satu dekade terakhir.
Dengan kekalahan ini, Jerman gagal melangkah ke babak knockout untuk pertama kalinya sejak 2018, sekaligus menjadi tim pertama yang tersingkir di babak 32 besar sejak menjadi juara dunia pada 2014. Rekor adu penalti yang dulu menjadi kebanggaan kini menjadi catatan sejarah pahit—dihentikan bukan oleh raksasa Eropa, tapi oleh tim kecil yang berani bermimpi besar.

















