terkini24.com,- Pelatih timnas Inggris Thomas Tuchel mengakui bahwa kegagalan timnya melangkah ke final Piala Dunia 2026 berakar pada karakter permainan yang tak mengandalkan penguasaan bola. Kekalahan 1-2 dari Argentina di semifinal di Atlanta Stadium pada 15 Juli 2026 memaksa Inggris harus puas berlaga di pertandingan perebutan tempat ketiga, sementara Tuchel menilai bahwa gaya bermain agresif dan dominasi bola ala Argentina dan Spanyol bukan bagian dari โ€œDNAโ€ timnya.

Tuchel menjelaskan bahwa setelah gol awal yang diciptakan oleh England, momentum permainan berbalik total. Penguasaan bola Inggris anjlok drastis, dan mereka terpaksa bertahan lebih dalam bukan karena strategi yang direncanakan, melainkan akibat tekanan berkelanjutan dari gelandang-gelandang Argentina yang mampu merebut bola dan mengontrol ritme pertandingan. โ€œKami tak mampu menghentikan mereka yang datang dari lini kedua,โ€ ujar Tuchel dalam wawancara pasca-laga. โ€œKami seharusnya bisa merebut bola, tapi bila tidak, kami tak bisa mematahkan tekanan mereka.โ€

Ia menekankan bahwa timnya bukanlah tim yang secara alami dirancang untuk menguasai bola seperti Spanyol, Brasil, atau Argentina. โ€œPenguasaan bola mungkin bukan bagian dari DNA kami,โ€ katanya, menyoroti perbedaan filosofi permainan antara Inggris dengan tim-tim yang lebih mengandalkan kontrol dan passing berkelanjutan. Tuchel menegaskan bahwa gaya bertahan yang terlihat di lapangan adalah respons terhadap situasi, bukan rencana awal.

Baca Juga:

Inggris kini bersiap menghadapi Prancis dalam laga perebutan tempat ketiga yang akan berlangsung di Miami Stadium pada 19 Juli 2026. Sementara itu, Argentina melangkah ke final untuk menghadapi Spanyol di New York New Jersey Stadium pada 20 Juli.

Designed with WordPress

Discover more from Terkini24.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading