Terkini24.com,- Belanda resmi tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Maroko 3-2 dalam adu penalti, usai bermain imbang 1-1 selama 120 menit di Stadion Al Bayt, Qatar, Senin (29/6/2026). Kekalahan dramatis itu dipicu oleh tiga eksekusi penalti gagal dari tim Oranye, dengan Justin Kluivert menjadi sorotan utama setelah tendangannya membentur tiang gawang.

Kluivert, putra legenda Belanda Patrick Kluivert, menjadi penendang ketiga untuk timnya. Dengan tekanan luar biasa, ia berhasil mengarahkan bola ke sudut kanan gawang, namun kiper Maroko, Bono, hanya perlu sedikit gerakan untuk menghalau bola yang menghantam tiang luar. Tendangan selanjutnya dari Quinten Timber melenceng jauh dari sasaran, sementara Crysencio Summerville berhasil ditepis Bono. Di sisi lain, Ismael Saibari menjadi pahlawan Maroko dengan tendangan penentu yang menutup kemenangan 3-2 bagi Singa Atlas.

Kegagalan ini bukan hanya mengakhiri mimpi Belanda untuk melangkah ke babak 16 besar, tetapi juga mengulang kisah pahit sang ayah, Patrick Kluivert, yang pernah gagal mengeksekusi penalti di final Piala Dunia 1998. Kini, Justin menjadi generasi kedua dalam keluarga Kluivert yang harus menanggung beban kegagalan di panggung tertinggi sepak bola dunia.

Justin, yang lahir di Zaandam pada 5 Mei 1999, memang tumbuh di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya. Ia memulai karier di akademi Ajax pada usia delapan tahun, dan setelah sembilan tahun menimba ilmu, ia promosi ke tim utama pada Januari 2017. Karier cemerlangnya bersama Ajax pada musim 2017/2018โ€”dengan 10 gol dari 30 penampilan di Eredivisieโ€”membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia kategori U-19 versi NXGN. Minat dari klub-klub besar seperti AC Milan, Barcelona, dan Manchester United pun muncul, namun ia memilih AS Roma sebagai rumah baru, mengingat gaya permainan Serie A yang menurutnya cocok untuk pengembangan tekniknya.

Baca Juga:

Meski kariernya di klub terus berkembang, kegagalan di Piala Dunia 2026 menjadi ujian terberat dalam karier internasionalnya. Kapten Belanda, Virgil van Dijk, terbuka mengungkapkan kekecewaannya, menyebut bahwa tiga penendang penalti gagal bukan hanya masalah teknis, tapi juga tekanan psikologis yang tak terbendung.

Ronald Koeman, pelatih Belanda, tetap membela anak asuhnya, menegaskan bahwa kekalahan ini bukanlah akhir dari masa depan timnya. โ€œKami kehilangan pertandingan, bukan generasi,โ€ ujarnya usai laga. Namun, bagi Justin Kluivert, momen ini akan selamanya menjadi bagian dari sejarahโ€”bukan hanya sebagai putra seorang legenda, tapi sebagai pemain yang mengalami puncak dan lembah dalam satu malam di panggung dunia.

Designed with WordPress

Discover more from Terkini24.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading