Terkini24.com,- Maroko kembali menjadi kejutan terbesar Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Belanda lewat adu penalti 3-2 dalam pertandingan babak 32 besar, Selasa (30/6/2026) di Stadion Monterrey. Setelah berimbang 1-1 selama 120 menit, tim asuhan Walid Reguigui membuktikan ketahanan mental luar biasa untuk melangkah ke babak 16 besar, sekaligus memperpanjang sejarah emas mereka di ajang paling bergengsi sepak bola dunia.
Belanda yang tampil lebih dominan di babak pertama dan unggul lewat gol Cody Gakpo pada menit ke-72, sempat diyakini akan melaju. Namun, semangat tak tergoyahkan dari Atlas Lions membalikkan segalanya. Di menit ke-90+1, bek berusia 29 tahun Issa Diop menyambut umpan silang dari sisi kiri dengan sundulan keras yang mengoyak gawang Andrรฉ Onana. Gol penyeimbang itu tak hanya menyelamatkan Maroko dari kekalahan, tetapi juga mencatatkan nama Diop sebagai pemain kedua dari Afrika Utara yang mencetak gol injury time babak kedua di fase gugur Piala Dunia, setelah Zakaria Aboukhlal pada 2022.
Lebih dari itu, Maroko menjadi negara Afrika pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mampu mencetak gol penyama kedudukan di menit-menit terakhir babak kedua untuk memaksa perpanjangan waktu di pertandingan fase gugur. Kemenangan ini juga mengukir rekor baru: tujuh gol yang dicetak Maroko sepanjang turnamen 2026 menjadi jumlah terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia sejak kejayaan mereka di tahun 2022.
Dalam adu penalti, tiga penendang BelandaโDonyell Malen, Jeremie Frimpong, dan Xavi Simonsโgagal memanfaatkan kesempatan, sementara Maroko sukses mengeksekusi semua tendangan mereka melalui Achraf Hakimi, Sofyan Amrabat, dan Youssef En-Nesyri. Penjaga gawang Yassine Bounou kembali menjadi pahlawan, menyelamatkan satu tendangan dan mengamankan langkah sejarah timnya.
Dengan kemenangan ini, Maroko menjadi satu-satunya tim Afrika yang bertahan hingga babak 16 besar Piala Dunia 2026, sekaligus menegaskan posisi mereka sebagai kekuatan baru di kancah dunia. Tidak hanya melaju, mereka membuktikan bahwa ketangguhan, disiplin, dan semangat pantang menyerah bisa mengalahkan kekuatan tradisional Eropa. Di Monterrey, sejarah bukan hanya ditulisโtetapi diperjuangkan hingga detik terakhir.
















