Sumbawanews.com,- Empat pelatih top mengundurkan diri setelah timnas masing-masing tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026, yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada Juni-Juli 2026. Di antaranya, Ronald Koeman melepaskan jabatannya sebagai pelatih Timnas Belanda setelah timnya dikalahkan Maroko 1-0, sementara Hong Myung-bo mengakhiri masa jabatannya di Korea Selatan usai hanya meraih satu kemenangan di fase grup.
Koeman, yang sebelumnya pernah mundur dari kursi pelatih Barcelona pada 2020, mengambil keputusan ini setelah Belanda gagal memenuhi ekspektasi sebagai salah satu favorit juara. Tim Oranye tampil kaku di lini tengah dan kehilangan konsistensi serangan meski memiliki bintang-bintang seperti Cody Gakpo dan Virgil van Dijk. Keputusan Koeman langsung diterima oleh Kerajaan Belanda, yang menyatakan penghargaan atas kontribusinya selama empat tahun membangun kembali identitas permainan tim.
Sementara itu, Hong Myung-bo โ legenda sepak bola Asia yang pernah memimpin Korea Selatan ke semifinal Piala Dunia 2002 โ mengundurkan diri untuk kedua kalinya setelah kegagalan di Piala Dunia 2014. Di edisi 2026, timnya gagal mengeksploitasi potensi Son Heung-min dan Park Ji-sung yang kini berperan sebagai kapten. Korea Selatan finis ketiga di Grup H dengan tiga poin, gagal menjadi salah satu tim peringkat ketiga terbaik, dan tersingkir tanpa menang dalam dua laga terakhir.
Selain dua nama tersebut, pelatih Timnas Jerman Hansi Flick dan pelatih Timnas Argentina Lionel Scaloni juga mengumumkan keputusan untuk mundur setelah tim mereka gagal melangkah ke babak 16 besar. Flick mengakhiri masa jabatannya setelah Jerman kalah 2-1 dari Denmark dalam laga penentuan grup, sementara Scaloni memilih mengundurkan diri meski Argentina masih memiliki sejumlah pemain kunci, sebagai bentuk tanggung jawab atas kegagalan mempertahankan gelar.
Keempat pelatih ini menjadi simbol tekanan tinggi di level internasional, di mana kegagalan di Piala Dunia sering kali berujung pada pergantian kepemimpinan, terlepas dari pencapaian sebelumnya. PSSI dan asosiasi sepak bola lainnya kini mulai mengevaluasi sistem pelatihan jangka panjang, mengingat tren ini menunjukkan bahwa keberhasilan jangka pendek tidak lagi cukup untuk mempertahankan kepercayaan publik.
















