terkini24.com,- Jakarta – Di tengah sorotan global yang menyebut Inggris sebagai unggulan mutlak, Timnas Republik Demokratik Kongo justru menegaskan bahwa tekanan tertinggi justru berpihak pada tim Eropa itu. Pelatih Sebastien Desabre memandang laga kontra The Three Lions di Stadion Atlanta, Rabu (1/7/2026) malam WIB, bukan sekadar laga penyisihan, melainkan peluang emas untuk menciptakan sejarah.

Dengan formasi yang mengandalkan sejumlah pemain berpengalaman di Liga Inggris—seperti Aaron Wan-Bissaka, Axel Tuanzebe, dan Yoane Wissa—Kongo tak lagi menjadi tim yang mudah dianggap remeh. Meski di atas kertas ditimpa oleh keperkasaan Inggris yang diperkuat Harry Kane, Jude Bellingham, Marcus Rashford, dan Bukayo Saka, Desabre menekankan bahwa mentalitas timnya jauh lebih kuat dari statistik.

“Tekanan pasti ada pada Inggris. Mereka diharapkan melangkah jauh, bahkan menjuarai turnamen ini,” ujar Desabre, mengutip pernyataannya kepada Reuters. “Kami datang bukan hanya untuk ikut serta, tapi untuk membuktikan bahwa sepak bola di Afrika bukan sekadar mimpi—ia adalah kehidupan. Setiap pemain kami memikul harapan jutaan orang di rumah.”

Desabre menambahkan, ketangguhan mental dan tekad tak tergoyahkan menjadi senjata utama timnya. “Mereka telah meraih hati banyak orang bukan karena bakat, tapi karena semangat, ketahanan, dan keberanian menghadapi tekanan luar biasa,” katanya.

Baca Juga:

Laga ini menjadi penentu nasib kedua tim di babak 16 besar. Pemenangnya akan menghadapi Meksiko di Mexico City Stadium pada 6 Juli 2026 dini hari WIB—sebuah tantangan yang menanti dengan segala dinamika geopolitik sepak bola modern.

Dalam laga grup terakhir, Kongo sukses mengejutkan dengan hasil imbang 1-1 melawan Portugal, sementara Inggris menutup fase grup dengan dua kemenangan dan satu imbang, mengamankan posisi teratas Grup L. Meski unggul dalam kualitas individual, Inggris tetap diwaspadai oleh isu krisis bek kanan dan tekanan publik yang kian membelit setiap keputusan Thomas Tuchel.

Bagi Kongo, ini bukan sekadar pertandingan. Ini adalah momen untuk mengubah narasi—dari tim yang dianggap penonton menjadi aktor utama dalam kisah Piala Dunia 2026. Dan di balik semua kekuatan Inggris, satu hal jelas: tekanan bukan milik mereka yang lemah, tapi milik mereka yang diharapkan tak boleh gagal.

Designed with WordPress

Discover more from Terkini24.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading