Terkini24.com,- Kekalahan dramatis Timnas Jerman dari Paraguay di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menyisakan luka mendalam—bukan hanya karena hasil akhir 3-4 lewat adu penalti, tapi karena keputusan VAR yang menganulir gol penting Jonathan Tah di babak tambahan. Gol yang seharusnya menjadi penentu kemenangan Der Panzer justru dibatalkan setelah wasit memutuskan bahwa Waldemar Anton melakukan pelanggaran terhadap kiper Paraguay, Orlando Gill, sebelum sundulan Tah membelah gawang.
Kegembiraan yang baru saja meledak di tribun pun berubah menjadi kebingungan dan kemarahan. Reaksi paling keras datang dari Juergen Klopp, mantan pelatih Liverpool dan salah satu suara paling berwibawa dalam dunia sepak bola global. Dalam pernyataan yang langsung menjadi viral, Klopp menyindir keras keputusan itu: “Kalau gol seperti itu dianggap tidak sah, maka Arsenal seharusnya bukan juara Premier League musim lalu.”
Klaim Klopp merujuk pada kontroversi serupa di ajang domestik Inggris, di mana Arsenal meraih titel liga dengan margin tipis—dan dalam beberapa laga krusial, keputusan VAR juga menjadi penentu. Sindiran itu bukan sekadar emosi, tapi pertanyaan mendasar tentang konsistensi dan keadilan dalam penerapan teknologi VAR di level tertinggi.
Di sisi lain, Paraguay merayakan kemenangan mereka sebagai sejarah. Negara yang tak pernah lolos dari babak 32 besar sejak 2010 kini melangkah ke perempat final, dan pemerintah pun menetapkan libur nasional sebagai bentuk kebanggaan. Sementara itu, Jerman—tim dengan sejarah emas di Piala Dunia—terpaksa pulang lebih awal, menjadi tim terbesar yang tersingkir di tahap ini.
Kontroversi ini memicu debat global: apakah VAR kini lebih sering menjadi sumber ketidakadilan daripada alat pembenar? Banyak pakar sepak bola menyoroti bahwa pelanggaran yang dianggap “mengganggu” oleh wasit—dalam hal ini, sentuhan kecil Anton terhadap Gill—tak seharusnya menghapus gol yang tercipta secara sah dan tak ada hubungan langsung dengan kejadian itu.
Di media sosial, tagar #VARJermanTersingkir menjadi tren teratas di Jerman dan Eropa, sementara di Brasil dan Asia, banyak netizen membandingkan keputusan ini dengan kontroversi serupa di Piala Dunia 2010 dan 2014—ketika keputusan wasit justru mengubah sejarah.
Klopp sendiri tak berhenti di situ. Ia menegaskan bahwa jika sistem ini terus membiarkan “gol yang jelas dihapus karena pelanggaran abu-abu”, maka integritas kompetisi di semua level—baik klub maupun tim nasional—akan terus diragukan. “Sepak bola bukan soal teknologi yang terlalu ketat, tapi soal keadilan yang konsisten,” ujarnya.
Dengan tersingkirnya Jerman, Piala Dunia 2026 semakin menunjukkan wajah baru: kuda hitam bangkit, raksasa jatuh, dan keputusan wasit jadi pusat perhatian—bukan hanya di lapangan, tapi di ruang diskusi global. Dan untuk Klopp, satu hal tetap jelas: jika gol seperti itu tidak diakui, maka gelar juara pun tak bisa lagi dianggap mulia.
















