Terkini24.com,- Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) mengutuk keras pernyataan Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Markwayne Mullin, yang merayakan tersingkirnya Timnas Iran dari Piala Dunia 2026 dengan komentar bernada sindiran. Perkataan Mullin yang menyebut tim Melli sebagai “delegasi paling menyita perhatian aparat” memicu kemarahan di kalangan pejabat dan suporter Iran, memperdalam ketegangan politik yang sudah menghiasi turnamen sejak awal.
Iran gagal melaju ke babak 32 besar setelah finis di Grup D dengan dua hasil imbang—1-1 melawan Belgia dan 1-1 melawan Selandia Baru. Harapan lolos sempat menyala ketika Shoja Khalilzadeh mencetak gol pada menit ke-88 melawan Mesir, tetapi wasit menghukum pelanggaran offside yang sangat tipis. Peluang terakhir pun sirna setelah Austria mencetak gol penyama di menit ke-96 melawan Aljazair, menghapuskan harapan Iran sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Sebelum laga terakhir, tim asuhan Amir Ghalenoei sudah mengeluhkan perlakuan diskriminatif dari otoritas AS. Dibatasi oleh kebijakan imigrasi yang ketat, skuad Iran dipaksa menginap di Meksiko dan bolak-balik ke Amerika Serikat untuk bertanding, menambah beban fisik dan psikologis. Federasi Iran bahkan mengajukan protes resmi ke FIFA, sementara Ghalenoei menyebut timnya sebagai “yang paling tertindas” dalam sejarah Piala Dunia. Kapten Mehdi Taremi juga tidak ragu menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami, baik dari FIFA maupun pemerintah Amerika Serikat.
Kontroversi memuncak setelah Mullin—yang dikenal sebagai salah satu sekutu terdekat Presiden Donald Trump—menyampaikan pernyataannya di media sosial usai laga terakhir Iran. Dengan nada merendahkan, ia menyatakan kegembiraannya bahwa Iran “tidak akan kembali ke Amerika Serikat,” dan menyiratkan bahwa kehadiran tim Iran lebih banyak menimbulkan masalah keamanan daripada hiburan. Pernyataan itu langsung direspons oleh pejabat Iran sebagai bentuk kebencian politik yang menyamar sebagai komentar olahraga.
Reaksi internasional pun cepat menyusul. Sejumlah diplomat dan aktivis hak asasi manusia mengecam pernyataan Mullin sebagai contoh nyata bagaimana politik memasuki ruang olahraga, sementara banyak suporter Iran di media sosial menyebutnya sebagai “rasisme bernama kebijakan luar negeri.” Di tengah meningkatnya isolasi Iran di pentas global, insiden ini dianggap bukan sekadar kejadian sepak bola—melainkan simbol dari konflik yang jauh lebih dalam.
Piala Dunia 2026 yang seharusnya menjadi ajang persatuan justru menjadi panggung bagi ketegangan geopolitik. Dan bagi Iran, kekalahan di lapangan kini diperparah oleh kekalahan di ranah diplomasi—di mana simbol olahraga menjadi sasaran ejekan, bukan penghargaan.
















