Sumbawanews.com,- Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Markwayne Mullin, terlihat bergoyang riang di depan kamera usai Timnas Iran resmi tersingkir dari Piala Dunia 2026. Ekspresi kegembiraannya itu ia tunjukkan usai laga terakhir Iran melawan Mesir berakhir imbang 1-1, dan kekalahan itu mengakhiri harapan mereka untuk melangkah ke babak 32 besar.
Meski sempat menghadapi berbagai hambatan selama turnamenโtermasuk pemindahan kamp pelatihan dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko, pada Mei laluโIran tetap bertahan hingga laga terakhir grup. Namun, gol yang dianggap sah oleh wasit di menit akhir justru dianulir karena offside kontroversial, memastikan Iran gagal meraih poin kemenangan dan tersingkir dengan tiga hasil imbang berturut-turut.
Dalam wawancara eksklusif dengan ESPN, Mullin tak menyembunyikan kepuasannya. โSaya hanya senang mereka sudah selesai, dan mereka tidak akan kembali,โ ujarnya. Ia bahkan menambahkan, โSaya sangat senang ketika kami dapat mencabut visa mereka dan mengatakan mereka dapat meninggalkan tanah AS, dan saya mungkin menyanyikan satu atau dua lagu atau bahkan menari dengan gembira.โ
Ketegangan antara Iran dan otoritas AS memang menjadi sorotan sepanjang turnamen. Tim Iran mengeluhkan pembatasan ketat yang diberlakukan, termasuk kewajiban untuk segera meninggalkan wilayah pertandingan setelah setiap laga, serta kendala logistik yang mempersulit persiapan tim. Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, menyebut timnya sebagai โyang paling tertindasโ di Piala Dunia 2026.
Pertandingan Iran di Piala Dunia 2026 semuanya berlangsung di wilayah ASโdua di Los Angeles dan satu di Seattleโmeski tim ini berbasis di perbatasan Meksiko. Keputusan itu diambil setelah serangan udara AS dan sekutu terhadap target di Iran pada Februari lalu, yang membuat keberadaan tim di Arizona dianggap terlalu berisiko.
Kegembiraan Mullin pun menjadi sorotan global, mengingat sifat olahraga yang seharusnya netral secara politik. Namun, dalam konteks hubungan AS-Iran yang sudah puluhan tahun penuh ketegangan, reaksi ini dianggap sebagai refleksi dari dinamika geopolitik yang tak bisa dipisahkan dari panggung sepak bola dunia.
Iran, yang pernah mencapai perempat final pada Piala Dunia 1998 dan 2006, kini harus kembali menunggu kesempatan berikutnya. Sementara itu, di luar lapangan, tarian kegirangan seorang menteri keamanan menjadi simbol tak terbantahkan: di dunia sepak bola, kadang kemenangan tak hanya diukur dari gol, tapi juga dari kebebasan untuk menari.
















