Terkini24.com,- Dalam kejutan terbesar fase gugur Piala Dunia 2026, Paraguay berhasil menyingkirkan juara dunia empat kali, Jerman, lewat adu penalti 4-3 setelah bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu di Stadion Boston, Amerika Serikat, pada 30 Juni 2026. Kemenangan epik itu tak hanya memicu euforia di seluruh negeri, tetapi juga memaksa Presiden Santiago Peña menetapkan 30 Juni sebagai hari libur nasional — sebuah penghormatan tanpa preceden dalam sejarah sepak bola Paraguay.
Dalam pernyataan resmi melalui akun X, Presiden Peña menyebut kemenangan tim nasional “Los Albirroja” sebagai momen yang menyatukan bangsa, lebih dari sekadar hasil pertandingan. “Ini adalah kebanggaan nasional yang tak ternilai. Kita merayakan semangat, tekad, dan keberanian para pemain yang membawa nama Paraguay ke jantung dunia,” tulisnya.
Kemenangan ini menjadi yang paling mengejutkan sepanjang sejarah pertemuan antara kedua tim di ajang Piala Dunia. Jerman, yang diperkuat oleh bintang-bintang Eropa dan diarsiteki Julian Nagelsmann, tampil dominan sejak babak pertama, tetapi gagal memanfaatkan peluang emas. Sementara Paraguay, dengan pertahanan disiplin dan serangan mematikan lewat penalti yang diubah menjadi keajaiban oleh striker pemimpin tim, membuktikan bahwa keberanian bisa mengalahkan keunggulan teknis.
Dengan kemenangan ini, Paraguay melaju ke babak 16 besar untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 2010, dan berpeluang menyamai pencapaian terbaik mereka di ajang tersebut — yaitu lolos ke perempat final. Lawan selanjutnya adalah pemenang laga antara Prancis dan Swedia, yang akan menentukan apakah mimpi besar ini bisa terus berlanjut.
Paraguay menjadi negara Amerika Selatan kedua yang memberi libur nasional selama Piala Dunia 2026, menyusul Ekuador yang sebelumnya mengambil kebijakan serupa setelah menyingkirkan Jerman di fase grup. Namun, kemenangan atas juara bertahan di babak 32 besar membuat respon di Paraguay jauh lebih masif: ribuan orang memadati jalan-jalan utama di Asunción, menyalakan kembang api, dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan hingga dini hari.
Di tengah hiruk-pikuk, pelatih Gustavo Alfaro memilih merendah. “Ini bukan milik kami sendiri. Ini milik seluruh rakyat Paraguay yang percaya meski dunia meragukan,” ujarnya usai pertandingan.
Sementara itu, kekalahan ini menjadi bencana besar bagi Jerman, yang gagal lolos ke babak 16 besar untuk kedua kalinya dalam tiga edisi terakhir Piala Dunia. Kapten Joshua Kimmich secara terbuka mengakui kekalahan itu sebagai “hakikat yang tak terbantahkan,” sementara pelatih Nagelsmann menyebut keputusan VAR sebagai “skandal” — pernyataan yang langsung menuai kritik luas dari FIFA.
Dengan langkah berani ini, Paraguay bukan hanya menulis sejarah di lapangan, tapi juga di hati rakyatnya. Libur nasional bukan sekadar hadiah, tapi pengakuan: bahwa dalam sepak bola, keajaiban bisa lahir dari mimpi yang tak pernah ditinggalkan.
















