terkini24.com,- Miami Gardens – Di usia 41 tahun, Cristiano Ronaldo tetap menjadi starter dan bermain penuh selama 90 menit di ketiga laga fase grup Piala Dunia 2026 bersama Portugal. Dari pertandingan melawan Republik Demokratik Kongo hingga laga penentu melawan Kolombia, sang kapten tak pernah diganti, meski performanya tak lagi menakutkan dan gagal mencetak gol sama sekali.
Portugal hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan Kolombia di matchday ketiga, sehingga harus puas finis runner-up Grup K dan menghadapi Kroasia di babak 32 besar. Ronaldo, yang hanya dua kali menyentuh bola di kotak penalti lawan, menjadi sorotan bukan karena kehebatannya, tapi karena keputusan pelatih Roberto Martinez yang tetap mempertahankannya di lapangan, meski ada opsi lebih segar seperti Gonçalo Ramos.
Kebijakan ini memicu perbandingan dengan tim-tim lain. Argentina, yang memiliki Lionel Messi di usia 39 tahun, justru memberinya istirahat di laga terakhir grup melawan Aljazair. Norwegia juga memilih untuk menyimpan Erling Haaland di pertandingan terakhir melawan Kosta Rika. Namun Martinez membantah tudingan bahwa ia tidak memperhatikan kondisi fisik Ronaldo.
“Kami tidak membanding-bandingkan dengan pemain dari tim lain. Itu kekanak-kanakan,” tegas Martinez dalam wawancara dengan ESPN. “Cristiano dimainkan di saat dan tempat yang tepat. Ini soal kekuatan mental, disiplin posisi, dan kemampuannya membuka ruang saat kami menyerang. Bukan soal berapa menit dia main, tapi bagaimana dia memberi dampak.”
Martinez menambahkan bahwa rotasi pemain akan diterapkan di babak gugur, tapi tidak hanya untuk Ronaldo—semua pemain akan mendapat giliran sesuai kebutuhan taktis dan kondisi fisik. Portugal, yang kini mengandalkan pengalaman di tengah gelombang generasi muda, masih percaya bahwa kehadiran Ronaldo di lapangan memberi nilai psikologis yang tak ternilai.
Pertandingan melawan Kroasia di Toronto pada 2 Juli mendatang akan menjadi ujian sejati: apakah Portugal akan terus mempertahankan strategi “Ronaldo Full 90 Menit”, atau mulai memikirkan masa depan tim dengan lebih bijak? Bagi banyak pengamat, ini bukan lagi soal seberapa hebat Ronaldo, tapi seberapa jauh timnya siap melepaskan legenda itu dari beban harapan yang tak lagi realistis.
















