Terkini24.com,- Meski tak pernah memakai jersey Garuda di lapangan, bek PSV Eindhoven Ryan Flamingo justru menjadi salah satu sosok paling konsisten dalam menunjukkan kebanggaannya pada akar budaya Indonesia. Di profil Instagram-nya, bendera Merah-Putih terpampang jelas sejak bertahun-tahun lalu—tak peduli apakah ia dipanggil ke tim nasional atau tidak.
Lahir di Blaricum, Belanda, pada 31 Desember 2002, Flamingo adalah putra dari keluarga keturunan Jawa-Suriname yang bermigrasi ke Negeri Kincir Angin. Karier sepak bolanya melesat cepat: dari akademi BFC Bussum, ia bergabung dengan Almere City, lalu menembus Serie A bersama Sassuolo sebelum akhirnya pindah ke Vitesse dan FC Utrecht. Pada 2024, PSV Eindhoven merekrutnya dengan nilai transfer sekitar €10 juta, menjadikannya salah satu bek tengah paling diandalkan di Eredivisie.
Di level tim nasional, Flamingo hanya pernah membela Belanda U-21, tampil di Kejuaraan Eropa U-21 2025. Ia menjadi bagian dari skuad yang tersingkir di semifinal oleh Inggris, namun performanya cukup menarik perhatian. Saat itu, PSSI tengah gencar menjaring pemain diaspora berdarah Indonesia, dan Flamingo masuk dalam daftar calon naturalisasi. Namun, karena keterbatasan regulasi FIFA terkait garis keturunan—khususnya kewarganegaraan leluhur langsung—upaya itu gagal terwujud.
Tak ada protes. Tak ada kekecewaan publik yang terdengar. Justru, Flamingo memilih cara yang lebih personal: ia tetap memajang bendera Indonesia di halaman profil Instagram-nya, bahkan setelah semua rumor naturalisasi padam. Ia juga kerap membagikan momen-momen budaya Indonesia, mulai dari makanan khas hingga perayaan Idul Fitri, dengan caption dalam bahasa Indonesia sederhana.
Konsistensi ini tak luput dari perhatian fans Tanah Air. Di media sosial, banyak yang menyebutnya sebagai “simbol kebanggaan tanpa jersey.” Sementara PSSI terus mencari talenta baru dari luar negeri—seperti Luke Vickery dan Mitchell Baker yang baru saja disahkan DPR—Flamingo menjadi contoh nyata bahwa cinta pada tanah leluhur tak selalu harus berujung pada debut internasional.
Di tengah hiruk-pikuk transfer pemain dan politik naturalisasi, Ryan Flamingo memilih jalan lain: menjadi pengingat bahwa identitas bukan soal kapasitas bermain, tapi soal hati. Dan hatinya, tetap berdetak untuk Merah-Putih.
















