terkini24.com,- Timnas Inggris bersiap menghadapi RD Kongo di babak 32 besar Piala Dunia 2026 dengan satu misi jelas: tidak boleh mengulang nasib buruk Jerman dan Belanda yang tersingkir lewat adu penalti.

Dua raksasa Eropa itu tumbang dalam drama titik putih dalam waktu singkat. Jerman, juara empat kali dunia, kalah 2-3 dari Paraguay setelah bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu. Di pertandingan berbeda, Belanda juga gagal melangkah lebih jauh setelah dikalahkan Maroko 2-3 dalam adu penalti, usai hasil imbang 1-1. Keduanya menjadi simbol betapa rapuhnya keunggulan teknis jika mental pemain goyah di momen paling krusial.

Bagi Inggris, ini bukan sekadar pelajaran dari luar. Sejarah mereka sendiri penuh luka di titik penalti: kekalahan di final Euro 2020 melawan Italia, tersingkir di Piala Dunia 1990, 1998, dan 2006. Meski di bawah Gareth Southgate mereka berhasil menang tiga dari empat adu penalti terakhir, bayangan masa lalu tetap menghantui.

Pelatih Thomas Tuchel tak ingin mengabaikan aspek psikologis. Ia menekankan kesiapan mental para pemain, bukan hanya taktik. Winger Noni Madueke mengakui, eksekusi penalti bukan soal teknik semata, tapi tentang kepercayaan diri, ritme lari, dan ketenangan di bawah tekanan. โ€œSaya selalu siap jika diminta. Tapi yang menentukan adalah keputusan pelatih dan bagaimana kita mengelola pikiran,โ€ ujarnya.

Pertandingan melawan RD Kongo di Atlanta Stadium, Rabu (1/7) malam WIB, diprediksi bakal ketat. Meski Inggris diunggulkan, lawan dari Afrika itu dikenal tangguh di laga eliminasi dan tak takut menghadapi raksasa. Tuchel pun memerintahkan timnya untuk mempersiapkan segala skenario โ€” termasuk yang paling menakutkan: adu penalti.

Dengan catatan sejarah yang begitu berat, Three Lions tahu: menang di 90 menit adalah impian. Tapi menang di atas titik putih adalah keharusan.

Designed with WordPress

Discover more from Terkini24.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading