Sumbawanews.com,- Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,2 dan 7,5 skala Richter yang mengguncang Venezuela pada Rabu pekan lalu meninggalkan duka mendalam di kalangan komunitas sepak bola. Di antara 1.719 korban jiwa, tersisalah kisah pilu keluarga Lucas Trejo, pemain asal Argentina yang membela Club Sport Marítimo di La Guaira.
Saat gempa melanda, Trejo sedang berlatih di Caracas. Ia segera bergegas kembali ke rumahnya di kota pesisir yang menjadi episentrum kerusakan terparah—tapi tak ada yang tersisa. Rumahnya hancur total, rata dengan tanah. Dalam tiga hari penuh mencari di antara puing-puing, ia akhirnya menemukan jenazah istrinya, Yanina, dan dua anak mereka, Aaron dan Ainhoa. Saudara iparnya, Ricardo Ardiles, mengatakan bahwa kehilangan itu “sama sekali tidak ada yang tersisa”—bukan hanya rumah, tapi seluruh masa depan keluarga itu ikut luluh lantak.
Bukan hanya Trejo yang merasakan patah hati. Pemain lokal Héctor Bello juga kehilangan istrinya, Andrea, yang meninggal dalam posisi melindungi bayinya saat rumah mereka runtuh. Bayi perempuan bernama Alana ditemukan hidup oleh tim penyelamat, dalam keadaan stabil bersama bibinya. Bello, yang saat kejadian berada di luar rumah, kini harus memikul beban berat: menyelamatkan kehidupan sang putri, sekaligus merawat luka yang tak terlihat akibat kepergian istri tercinta.
Kedua kisah ini menjadi simbol kegagahan dan kesedihan dalam bencana alam terbesar yang melanda Venezuela dalam dekade terakhir. Di tengah upaya penyelamatan yang masih berlanjut, ribuan orang lainnya masih dilaporkan hilang, sementara keluarga korban—termasuk para atlet yang sehari-hari membawa kebanggaan lewat gol dan assist—harus belajar hidup tanpa orang-orang yang mereka cintai.
Gempa Venezuela bukan hanya soal angka korban atau kerusakan infrastruktur. Ia adalah tragedi manusia yang menggoyahkan fondasi keluarga, termasuk di antara para pemain yang selama ini dianggap sebagai figur kuat di lapangan—tapi rapuh di hadapan kekuasaan alam.
















