Terkini24.com,- Kegagalan Timnas Belanda tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Maroko lewat adu penalti 3-2, memicu kemarahan legenda sepak bola dunia, Zlatan Ibrahimovic. Dalam wawancara eksklusif dengan FOX Sports, striker legendaris Swedia itu tidak segan menyalahkan pelatih Ronald Koeman sebagai penyebab utama kekalahan dramatis tim Oranje.
“Saya tidak mengenali tim Belanda hari ini,” tegas Ibrahimovic. “Mereka kalah bukan karena kurang talenta, tapi karena kehilangan identitas. Ini bukan sepak bola Belanda. Ini adalah sepak bola yang takut menang.”
Koeman memilih formasi 5-4-1 yang sangat defensif saat menghadapi Maroko, sebuah keputusan yang langsung menuai kritik tajam dari para legenda. Ibrahimovic menilai strategi itu justru menghancurkan warisan sepak bola Belanda yang selama ini dikenal dengan serangan mematikan, kontrol bola agresif, dan semangat menyerang tanpa kompromi.
“Saya selalu diajarkan: menyerang, menyerang, dan menyerang. Itu adalah darah Belanda. Bukan bermain agar tidak kalah seperti tim Italia. Kalau harus kalah, kalahlah dengan harga diri. Bukan dengan kehilangan jiwa tim,” ujarnya tegas.
Kritik serupa datang dari legenda Prancis Thierry Henry, yang menyebut keputusan Koeman memasukkan bek tambahan dengan mengorbankan gelandang sebagai sinyal ketakutan. “Ketika Anda menarik keluar seorang gelandang dan memasukkan bek, itu seperti mengatakan: ‘Kami takut pada Maroko.’ Kalau menang, itu disebut genius. Kalau kalah, itu jadi bahan ejekan,” kata Henry.
Pertandingan berlangsung sengit di Stadion MetLife, New Jersey, pada 30 Juni 2026. Belanda unggul 1-0 lewat gol Cody Gakpo di menit ke-72, namun keunggulan itu lenyap ketika Issa Diop menyamakan kedudukan untuk Maroko di injury time babak kedua. Dalam adu penalti, Belanda gagal mengonversi dua tendangan—termasuk satu oleh Justin Kluivert, putra legenda Patrick Kluivert—sedangkan Maroko sukses mengeksekusi tiga dari empat penalti.
Kapten Belanda, Virgil van Dijk, mengaku kecewa berat usai laga. “Kami punya peluang. Kami kehilangan kemenangan di menit-menit terakhir. Ini menyakitkan,” ujarnya.
Sementara itu, Koeman tetap bersikeras bahwa keputusannya didasarkan pada analisis taktis, bukan rasa takut. Namun, di tengah gelombang kritik dari para legenda seperti Ibrahimovic, Rafael van der Vaart, dan Henry, tekanan untuk mundur mulai menguat.
Ibrahimovic menutup kritiknya dengan pernyataan yang menggema: “Belanda tidak butuh pelatih yang mengubah timnya jadi pengecut. Belanda butuh pelatih yang mengingatkan dunia: kami adalah tim yang berani menyerang, bukan tim yang bersembunyi di belakang lima bek.”
Dengan tersingkirnya Belanda, Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa sepak bola modern tidak hanya soal strategi, tapi juga soal jiwa—dan Belanda tampaknya kehilangan jiwanya di tengah hujan penalti di New Jersey.
















