terkini24.com,- Pelatih Timnas Iran, Amir Ghalenoei, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas perlakuan tidak adil yang diterima timnya oleh tuan rumah Amerika Serikat selama Piala Dunia 2026. Meski mampu menyelesaikan fase grup tanpa satu pun kekalahan—tiga kali imbang melawan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir—Iran harus bertahan di bawah serangkaian pembatasan ekstrem yang mengganggu kesiapan tim.
Ghalenoei tak segan menyebutkan bahwa kondisi ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan bentuk diskriminasi sistematis. “Saya bangga pada para pemain muda yang berjuang dengan segala keterbatasan. Mereka membuat sejarah, meski negara tuan rumah memperlakukan kami dengan sangat tidak adil,” ujarnya usai laga kontra Mesir di Seattle, Sabtu (27/6) pagi WIB.
Ketegangan ini bermula sejak awal turnamen. Iran awalnya dijadwalkan bermarkas di Tucson, Arizona, namun terpaksa pindah ke Tijuana, Meksiko, akibat hambatan visa ketat yang diterapkan AS menyusut ketegangan diplomatik sejak Februari lalu. Dalam dua laga pertama, tim asuhan Ghalenoei hanya diizinkan masuk AS sehari sebelum pertandingan, lalu langsung dipulangkan ke Meksiko setelah laga usai. Bahkan, sejumlah ofisial teknis dan staf pendukung dilarang masuk ke wilayah AS, membuat tim bertanding tanpa kehadiran lengkap.
Baru pada laga terakhir melawan Mesir, otoritas AS memberi kelonggaran: Iran diizinkan tiba dua hari sebelum pertandingan. Namun, kelonggaran itu tak mengubah fakta bahwa tim tetap dipaksa meninggalkan AS segera setelah pertandingan berakhir—tanpa kesempatan istirahat atau pemulihan yang layak.
“Kami mencintai Tijuana, kami mencintai rakyat Meksiko. Tapi ini bukan tempat yang seharusnya menjadi basis tim nasional di turnamen dunia,” kata kapten Mehdi Taremi. “Sebagai pemain profesional, kami berhak atas perlakuan yang adil, bukan dilempar dari satu negara ke negara lain seperti barang yang tak diinginkan.”
Meski finis di posisi ketiga Grup G dengan tiga poin dari tiga laga imbang, Iran gagal lolos ke babak gugur. Namun, performa mereka—tanpa kekalahan, tanpa kehadiran staf lengkap, tanpa waktu istirahat memadai—menjadi simbol ketahanan luar biasa di tengah tekanan politik dan administratif yang tak lazim dalam sejarah Piala Dunia.
Ghalenoei menyerukan tindakan tegas dari FIFA. “Jangan biarkan ini terulang di turnamen berikutnya. Piala Dunia adalah milik semua negara, bukan alat politik. Kami datang untuk bermain bola, bukan untuk berperang di luar lapangan.”
Dengan segala keterbatasan, Iran tetap menjadi satu-satunya tim di Piala Dunia 2026 yang tak pernah kalah—sebuah prestasi yang tak bisa diabaikan, meski diraih di bawah bayang-bayang ketidakadilan.
















